Tantangan implementasi Media berbasis IT

 Tantangan Implementasi Media Berbasis IT dalam Pendidikan



            Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Media pembelajaran berbasis IT seperti e-learning, Learning Management System (LMS), multimedia interaktif, hingga aplikasi mobile telah menjadi bagian penting dalam mendukung pembelajaran modern. Kehadiran media berbasis IT diyakini mampu meningkatkan motivasi belajar siswa, mempermudah akses informasi, serta memperluas cakrawala pengetahuan.

           Namun, implementasi media berbasis IT di lapangan tidak selalu berjalan mulus. Banyak tantangan yang harus dihadapi baik oleh guru, siswa, maupun lembaga pendidikan. Tantangan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyangkut aspek sosial, ekonomi, dan pedagogis. Artikel ini membahas berbagai tantangan implementasi media berbasis IT dalam pendidikan secara komprehensif

1. Keterbatasan Infrastruktur

         Infrastruktur merupakan syarat utama agar media berbasis IT dapat digunakan secara efektif. Fakta di lapangan menunjukkan masih banyak sekolah di daerah pedesaan atau terpencil yang belum memiliki akses internet stabil, komputer, proyektor, atau bahkan jaringan listrik yang memadai. Keterbatasan ini menyebabkan pembelajaran digital sulit diterapkan secara merata.

Padahal, menurut Munir (2017), keberhasilan pembelajaran berbasis IT sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana prasarana. Tanpa dukungan infrastruktur, media pembelajaran digital hanya akan menjadi wacana tanpa implementasi nyata.

2. Literasi Digital Guru

        Guru merupakan aktor utama dalam pelaksanaan pembelajaran. Namun, masih banyak guru yang belum memiliki literasi digital memadai. Sebagian besar guru hanya terbiasa dengan metode konvensional seperti ceramah atau buku teks, sehingga kurang percaya diri dalam memanfaatkan media berbasis IT.

Hasil penelitian Rusman dkk. (2019) menunjukkan bahwa kurangnya pelatihan, minimnya pendampingan, dan sikap resistensi terhadap perubahan menjadi penyebab rendahnya pemanfaatan media digital oleh guru. Hal ini berdampak pada rendahnya kualitas pembelajaran berbasis IT. 

3. Kesiapan Peserta Didik
         Peserta didik di era digital memang lebih akrab dengan teknologi, tetapi tidak semuanya memiliki kesiapan yang sama dalam konteks pendidikan. Ada siswa yang terbiasa menggunakan smartphone untuk hiburan, tetapi kesulitan ketika harus menggunakannya untuk belajar. Selain itu, tidak semua siswa memiliki perangkat pribadi atau kuota internet yang memadai.

Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam kesiapan peserta didik. Guru perlu merancang strategi agar pembelajaran berbasis IT dapat diakses oleh semua siswa secara adil.

4. Biaya dan Anggaran Pendidikan

         Implementasi media berbasis IT membutuhkan dana besar, mulai dari pengadaan perangkat, langganan aplikasi, pemeliharaan jaringan, hingga pelatihan guru. Sekolah dengan anggaran terbatas sering kali tidak mampu memenuhi kebutuhan ini.

Menurut Uno (2020), keberhasilan inovasi pendidikan berbasis IT memerlukan dukungan finansial yang konsisten. Tanpa dukungan anggaran, pemanfaatan media berbasis IT hanya akan berjalan setengah hati. 

5. Masalah Teknis
           Kendala teknis sering kali muncul dalam penggunaan media berbasis IT, seperti gangguan jaringan, keterbatasan kapasitas perangkat, atau error pada aplikasi. Ketergantungan pada teknologi membuat proses pembelajaran bisa terhenti ketika terjadi masalah teknis.

Misalnya, dalam pembelajaran daring selama pandemi, banyak siswa maupun guru yang mengalami kesulitan masuk ke aplikasi karena server overload. Kondisi ini menghambat kelancaran pembelajaran dan menurunkan efektivitasnya.

6. Kurangnya Konten yang Relevan
         Media digital yang tersedia di internet tidak selalu sesuai dengan kurikulum nasional. Guru sering kesulitan menemukan bahan ajar digital yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Membuat konten digital sendiri juga bukan perkara mudah, karena membutuhkan keahlian desain, waktu, dan kreativitas.

Rusman (2019) menekankan bahwa konten pembelajaran harus bersifat kontekstual agar mampu menjawab kebutuhan siswa. Tanpa konten yang relevan, media berbasis IT hanya akan menjadi pajangan tanpa makna pedagogis.

7. Aspek Keamanan dan Etika Digital

         Pemanfaatan internet dalam pembelajaran membuka peluang terjadinya berbagai masalah etika, seperti plagiarisme, cyberbullying, hingga paparan konten negatif. Selain itu, rendahnya kesadaran terhadap keamanan data pribadi juga menjadi masalah serius.

Pendidikan etika digital menjadi hal penting agar siswa tidak hanya cakap secara teknologi, tetapi juga bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakannya.

8. Kesenjangan Digital
          Kesenjangan digital (digital divide) masih menjadi tantangan utama. Siswa di perkotaan lebih mudah mengakses media berbasis IT dibanding siswa di pedesaan. Hal ini memperlebar ketidakmerataan kualitas pendidikan. Jika tidak diatasi, kesenjangan ini berpotensi menciptakan ketidakadilan sosial di masa depan.

Menurut Munir (2017), kesenjangan digital bukan hanya masalah teknologi, tetapi juga masalah keadilan sosial. Pemerataan akses menjadi kunci agar media berbasis IT benar-benar mendukung pendidikan untuk semua.

Kesimpulan

        Media berbasis IT memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Namun, tantangan implementasinya tidak boleh diabaikan. Keterbatasan infrastruktur, rendahnya literasi digital guru, kesiapan peserta didik, keterbatasan anggaran, masalah teknis, minimnya konten relevan, aspek keamanan digital, dan kesenjangan digital merupakan isu yang harus segera diatasi.

         Diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat untuk mencari solusi bersama. Dengan demikian, media berbasis IT tidak hanya menjadi simbol kemajuan, tetapi benar-benar mampu menjadi alat transformasi pendidikan menuju arah yang lebih baik.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inilah kisahku

Inovasi Media Pembelajaran: Kunci Sukses Proses Belajar Mengajar