Guru Viral, Ilmu Tenggelam: terhadap Fenomena Guru yang Mengejar Popularitas daripada Kompetensi
GURU VIRAL, ILMU TENGGELAM : TERHADAP FENOMENA GURU YANG MENGEJAR POPULARITAS DARI PADA KOMPETENSI
Di era digital, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, termasuk dunia pendidikan. TikTok dan platform sejenis dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan materi pembelajaran secara kreatif dan menarik. Namun, persoalan muncul ketika sebagian guru lebih berambisi menjadi figur viral daripada menjadi pendidik yang berkualitas.
Ketika jumlah pengikut lebih dibanggakan daripada penguasaan materi, dan ketika jumlah tayangan lebih penting daripada kualitas pembelajaran, maka dunia pendidikan sedang menghadapi persoalan yang serius.
Dari perspektif budaya, guru adalah sosok yang dihormati karena ilmu, akhlak, dan keteladanannya. Nilai luhur bahwa guru adalah pribadi yang "digugu dan ditiru" perlahan terkikis ketika citra yang dibangun lebih menonjolkan sensasi daripada substansi. Budaya belajar yang seharusnya dipenuhi dengan semangat membaca, berpikir kritis, dan memperdalam ilmu mulai tergeser oleh budaya instan yang mengutamakan hiburan dan popularitas.
Akibatnya, masyarakat perlahan mengukur kualitas seseorang dari tingkat viralitasnya, bukan dari kapasitas intelektual atau kontribusinya bagi pendidikan.
Dari sisi sosial, fenomena ini memberikan dampak yang tidak ringan. Murid melihat langsung perilaku gurunya dan sering kali menjadikannya sebagai contoh. Jika seorang guru lebih fokus membuat konten demi menarik perhatian publik daripada mempersiapkan pembelajaran dengan baik, maka peserta didik dapat menangkap pesan bahwa pencitraan lebih penting daripada kerja keras dan kompetensi. Lebih mengkhawatirkan lagi, profesi guru yang selama ini dipandang sebagai profesi mulia dapat kehilangan wibawanya karena tercampur dengan budaya mencari sensasi demi keuntungan pribadi atau popularitas sesaat.
Secara psikologis, media sosial memang dirancang untuk memberikan kepuasan instan melalui jumlah suka, komentar, dan pengikut. Tanpa disadari, seseorang dapat terjebak dalam kebutuhan akan validasi yang terus-menerus. Dalam kondisi seperti ini, fokus untuk belajar dan meningkatkan kemampuan dapat tergeser oleh keinginan mempertahankan popularitas. Demi memperoleh perhatian, konten yang dibuat pun berpotensi semakin sensasional dan semakin jauh dari nilai-nilai pendidikan. Pada titik tertentu, media sosial tidak lagi menjadi alat untuk menyebarkan ilmu, tetapi justru mengendalikan arah perilaku penggunanya.
Dari sudut pandang agama, seorang guru memikul amanah yang sangat besar. Mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk tanggung jawab moral dan ibadah yang menuntut
- keikhlasan
- integritas,
- kesungguhan.
Islam memuliakan orang-orang yang berilmu dan mengajarkan ilmu kepada orang lain. Karena itu, apabila orientasi seorang pendidik bergeser dari menyebarkan ilmu menuju mengejar pujian dan ketenaran, maka sudah semestinya dilakukan introspeksi terhadap niat dan tujuan yang sebenarnya.
Popularitas tidak akan menggantikan nilai sebuah ilmu yang bermanfaat, dan jumlah pengikut tidak akan menggantikan tanggung jawab moral seorang guru terhadap peserta didiknya.
Kritik ini bukan ditujukan kepada semua guru yang aktif di media sosial. Banyak pendidik yang justru memanfaatkan TikTok sebagai media edukasi yang kreatif, inspiratif, dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Yang menjadi persoalan adalah ketika media sosial dijadikan panggung utama, sementara tugas mendidik hanya menjadi pelengkap. Seorang guru boleh terkenal, tetapi ketenarannya harus lahir dari kualitas ilmu, dedikasi, dan keteladanannya, bukan dari sensasi yang mengabaikan esensi pendidikan.
Pada akhirnya, dunia pendidikan tidak membutuhkan guru yang sekadar viral. Dunia pendidikan membutuhkan guru yang berpikir kritis, terus belajar, memiliki integritas, dan mampu membentuk karakter generasi penerus bangsa. Viral hanya bertahan sesaat, tetapi ilmu yang benar dan keteladanan yang baik akan terus hidup dan memberikan manfaat jauh setelah popularitas itu hilang. Kritik yang paling keras bukanlah menyebut seseorang tidak berilmu, melainkan menunjukkan bahwa ketika seorang guru lebih mengejar pengakuan daripada kompetensi, ia sedang menjauh dari hakikat sejati profesinya sebagai seorang pendidik.

Komentar
Posting Komentar